Parenting Tips – Tantrum adalah momen ketika anak marah dan meluapkan emosinya. Ketika tantrum, anak biasanya menangis secara berlebihan, berguling-guling di lantai, bahkan melempar barang-barang di sekitar. Tak jarang luapan emosi tersebut malah membuat orang tua ikut emosi juga karena kesulitan menghadapi anak tantrum.
Akan tetapi bukan berarti anak yang sedang tantrum adalah anak nakal. Tantrum menjadi salah satu ekspresi sang anak untuk meluapkan emosinya. Sama seperti ketika orang dewasa merasa kesal dan curhat dengan nada ekspresi yang menggebu-gebu. Anak-anak yang tantrum sedang berusaha mengekspresikan emosinya.
Saat anak tantrum, mereka ingin mengeluarkan emosi negatifnya seperti kekesalan dan kesedihan. Tetapi mereka tidak tahu cara untuk mengeluapkan emosinya sehingga anak tantrum kerap menggunakan cara destruktif seperti menangis kencang hingga melempar barang.
Ketika orang tua sudah kepalang emosi, hal-hal yang dilakukan sebagai upaya mengatasi anak tantrum cenderung mneggunakan kekerasan. Padahal, menghadapi anak tantrum dengan kekerasan adalah hal yang tidak tepat. Orang tua yang kesulitan menghadapi anak yang tantrum juga bukanlah orang tua yang gagal.
Sebagai orang tua, mengajarkan anak untuk memahami dan mengontrol perasaan merupakan sebuah kewajiban. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan contoh perbuatan nyata dalam mendidik si kecil.
Seperti misalnya dalam menentukan cara yang bijak untuk menghadapi anak saat tantrum. Pada kesempatan kali ini, Tania Kids Center akan memberikan tips Dos and Don’ts bagi orang tua untuk mengatasi anak saat tantrum. Dos and Don’ts saat anak tantrum antara lain adalah:
Table of Contents:
Do’s Saat Anak Tantrum
Don’ts Saat Anak Tantrum
Ada beberapa hal yang dapat orang tua terapkan untuk mengatasi anak tantrum. Berikut di antaranya:
Saat anak sedang tantrum, hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah mengontrol diri untuk tetap tenang. Menjaga stabilitas emosi merupakan hal penting sebagai cara menghadapi anak tantrum. Menghadapi api dengan api hanya akan membuat kobarannya lebih besar. Jadi, tetaplah tenang dan ciptakan suasana nyaman.
Apabila orang tua sudah merasa tidak tahan menghadapi anak yang sedang tantrum, sebaiknya menjauh sejenak dari anak. Pastikan anak berada di tempat yang aman. Orang tua bisa menitipkan anak ke anggota keluarga yang ada di rumah.
Setelah merasa lebih tenang, orang tua bisa mulai mendekati sang anak lagi. Hal ini agar orang tua tidak ringan tangan saat menghadapi anak yang sedang tantrum.
Ketika anak tantrum, orang tua pasti panik dan ikut emosi. Cobalah untuk fokus dengan keadaan saat anak tantrum. Orang tua bisa memperhatikan ekspresi anak yang tantrum. Misalnya, orang tua memperhatikan kondisi anak yang menangis kencang. Cobalah perhatikan ekspresi anak yang sedang menangis. Apakah tangisannya sangat kencang? Bagimanakah wajah anak ketika ia menangis? Hal ini bertujuan untuk mengalihkan pikiran orang tua dari tangisan dan teriakan si anak.

Ketika anak sedang tantrum, sebagai orang tua cobalah untuk mendekap dan memeluk sang buah hati. Orang tua juga bisa memberikan perkataan yang membuat sang anak menjadi lebih tenang. Misalnya, “Iya mama tahu kamu lagi marah ya,”. Sebaiknya memberikan kata-kata yang melabeli bahwa sang anak sedang emosi tanpa harus menambahkan ucapan yang lain.
Orang tua juga memberi pendekatan secara halus seperti memeluk. Pelukan akan menyalurkan perasaan hangat dan nyaman pada anak. Dengan begitu anak akan merasakan rasa sayang yang orang berikan melalui pelukan sehingga luapan emosi mereka akan reda.
Cobalah untuk mengalihkan perhatian anak agar mereka tidak fokus pada hal yang membuat mereka rewel hingga tantrum. Mengalihkan perhatian anak dengan hal-hal yang mereka sukai seperti mainan atau makanan favorit, hingga membawanya ke ruangan dengan suasana baru merupakan adalah cara bijak untuk menangani anak saat tantrum.
Beberapa anak kerap melakukan hal yang dapat membahayakan keselamaan dirinya saat alami tantrum. Untuk itum hal yang harus dilakukan orang tua ketika anak mulai mengamuk adalah menempatkan merak di ruangan yang aman atau menjauhkan hal-hal yang berkemungkinan mencelakakan anak.
Hal yang perlu dilakukan orang tua selanjutnya setelah anak alami tantrum adalah memberi penjelasan kepada anak secara tegas namun tetap lembut. Berilah pemahaman mengenai alasan mengapa anak tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Gunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami.
Ketika anak tantrum, ia akan melakukan hal-hal yang bersifat destruktif. Biasanya anak-anak akan berguling-guling di lantai, melempar barang, dan menendang. Dalam kondisi ini, sebaiknya orang tua mengajarkan anak cara melampiaskan emosi yang benar.
Berikan pengertian kepada anak saat ia tantrum. Misalnya, tidak boleh memukul orang, tetapi boleh memukul sandsack. Kemudian saat tantrum, anak-anak akan suka berteriak. Orang tua perlu mengajarkan kepada anak, apabila ingin berteriak bisa sambil ditutup bantal.
Selain itu anak juga bisa diajarkan melampiaskan emosi dengan cara mencoret-coret kertas. Sediakan kertas yang besar sebagai wadah bagi anak meluapkan emosinya.
Baca Juga: Bolehkah Anak Duduk dalam Posisi ‘W’?
Setelah membaca tentang hal-hal yang dapat dilakukan orang tua ketika anak alami tantrum, di bawah ini merupakan hal-hal yang sebaiknya orang tua hindari dalam menangani anak tantrum.

Jangan memarahi atau membentak anak apabila mereka merengek sebab tantrum. Melihat anak yang rewel memang sangat menganggu, akan tetapi membentak dan memarahi mereka bukanlah pilihan yang tepat.
Orang tua juga tidak boleh memukul anak ketika tantrum. Meski kesal atau emosi ikut terpancing, jangan pernah sekali-kali menenagkan anak dengan kekerasan. Pukulan hanya akan membuat anak trauma sehingga tidak berani mengutarakan perasaannya di kemudian hari. Selain itu, memukul anak merupakan tindakan terpuji yang dapat ditiru anak hingga mereka dewasa nanti.
Lari dari situasi seperti mengabaikan anak yang sedang tantrum bukanlah pilihan tepat untuk menangani mereka. Orang tua memiliki peran penting dalam mengontrol dan menangani anak selam masa tumbuh kembangnya. Lari dari situasi ketika anak tantrum akan mencipta jarak antara dengan orang tua sebab anak harus mengatasi luapan emosinya.
Hindari juga memberikan ancaman pada anak untuk menenangkan mereka saat tantrum. Ancaman yang sering dilontarkan akan menciptakan hubungan yang tidak sehat antara orang tua dengan anak.
Tak jarang, ketika sudah kehabisan cara atau jengkel melihat anak tantrum, orang tua akan memberikan segala yang anak inginkan. Cara tersebut bukanlah pilihan terbaik untuk menghadapi anak tantrum.
Sebaiknya, ketika anak tantrum, orang tua tidak menuruti semua keinginan anak. Hal ini hanya akan membentuk karakter anak menajdi manja.
Uraian di atas adalah dos and donts terkait menghadapi anak tantrum. Baca juga artikel lain dari Tania Kids Center mengenai anak tantrum di sini.
Baca Juga:
Silahkan konsultasikan pertanyaan anda pada kami
Whatsapp / phone : 0811-181-1183
Email : taniakidsc@gmail.com
Alamat : Jl. Tanjung Duren Barat 1 No. 18
Jakarta Barat 11470
Copyright © 2022. Tania Kid’s Center | Klinik Tumbuh Kembang Anak | Web Designed by ![]()