Tantrum adalah gangguan emosi pada anak yang diluapkan dengan berlebihan dengan penyebab salah satunya karena pola asuh orang tua. Tantrum juga bisa diartikan sebagai kondisi dimana anak marah dan frustasi yang sangat ekstrim, dan tampak seperti kehilangan kendali. Biasa di ungkapkan melaui tangisan, berteriak, dan menggerakkan tubuh dengan kasar dan agresif.
Bentuk luapan lain seperti, membuang barang, membenturkan kepala, menggulingkan badan di lantai, hingga menghentakkan kaki ke lantai. Jika sampai berlebihan anak bisa saja sampai muntah, pipis, atau sesak nafas karena terlalu banyak menangis dan berteriak.
Seperti yang ungkapkan WHO masa emas perkembangan anak adalah usia 0-6 tahun. Dan di dalam masa itu terdapat masa yang diesebut dengan usia toddler. Usia toddler adalah anak berusia 1-3 tahun, pada periode toddler ini anak lebih banyak bergerak, mengeksplore sekitarnya, dan rasa ingin tahu yang tinggi.
Pada masa toddler ini juga orang tua lebih diuji kesabarannya, pasalnya kebanyakan anak akan mencoba ‘melawan’ sampai orang tuanya menghentikannya. Anak pada usia 2 tahun bersikap lebih egosentris dan belum bisa memposisikan dirinya pada sudut pandang orang lain.
Pada fase ini anak menginginkan kemandirian dan self-control untuk meneksplore lingkungan sekitarnya. Pada masa ini juga kemampuan fisik dan kognitif anak sedang berkembang. Saat masa toddler ini jika anak mengalami kegagalan maka akan timbul tantrum pada anak.
Tapi PapaMama bisa sedikit mengurangi rasa khawatir karena tantrum ini tergolong normal dan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Anak melakukan tantrum ini karena ingin menunjukkan kemandiriannya, mengekspresikan dirinya, mengeluarkan rasa marahnya, hingga sulit menyampaikan pendapatnya.

Menurut beberapa penilitian faktor penyebab tantrum adalah anak tidak mendapatkan apa yang ia inginkan, kesulitan mengungkapkan perasaan, lelah, kurang tidur, dan pola asuh orang tua.
Pola asuh orang tua sangat penting bagi tumbuh kembang anak dan berperan penting dalam perkembangan emosi, intelektual, dan kepribadian anak.
Orang tua memberikan peraturan yang tegas untuk perilaku yang diinginkan orang tua termasuk jenis pola asuh otoriter. Orang tua akan memberikan hukuman bila terjadi kegagalan dan memberikan penghargaan ketika memenuhi perilaku standar yang diharapkan.
Pada pola asuh ini, anak tidak diberikan kesempatan pada anak untuk mandiri dan mengambil keputusan terhadap perilaku mereka.
Oleh karena itu, anak hanya bisa melakukan apa yang orang tua katakan dan anak menjadi kehilangan kesempatan belajar bagaimana cara mengendalikan emosi mereka sendiri.
Pola asuh permisif adalah sikap orang tua yang menunjukkan rasa sayang yang tinggi, tetapi diringi dengan kendali tuntutan prestasi ynag rendah.
Tipe pola asuh ini memberikan efek kurang mandiri, susah bergaul, tidak bertanggung jawab, dan menghambat moral pada anak karena orang tua terlalu memanjakan.
Pola asuh ini memiliki keseimbangan baik dari sisi orang tua maupun anak. Dengan pola asuh demokratis ini anak memiliki rasa tanggung jawab atas perilakunya, memupuk rasa percaya diri anak, dan anak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Maka dapat disimpulkan, pola asuh orang tua sangat berhubungan dengan tantrum pada anak. Ketika PapaMama menggunakan pola asuh demokratis maka intensitas tantrum pada anak akan rendah.
Sebaliknya jika PapaMama menggunakan pola asuh otoritas dan permisif maka intensitas tantrum anak cenderung tinggi.
Jika PapaMama ingin konsultasi mengenai masalah tumbuh kembang atau masalah tantrum pada anak. Anda, bisa segera konsultasikan ke Tania Kids Center.
Silahkan konsultasikan pertanyaan anda pada kami
Whatsapp / phone : 0811-181-1183
Email : taniakidsc@gmail.com
Alamat : Jl. Tanjung Duren Barat 1 No. 18
Jakarta Barat 11470
Copyright © 2022. Tania Kid’s Center | Klinik Tumbuh Kembang Anak | Web Designed by ![]()