Cara Komunikasi dengan Remaja – Masa remaja adalah saat di mana manusia mengalami peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini, anak akan mengalami pubertas yang ditandai dengan perubahan bentuk fisik dan perkembangan psikis.
Bukan lagi rahasia bahwa orang tua akan menemui kesulitan untuk melakukan komunikasi dengan anak, ketika mereka telah menginjak fase remaja. Hal tersebut dikarenakan, saat mengalami pubertas, anak akan cenderung tertarik dengan dunia luar, sementara orang tua menemukan rintangan untuk membangun kedekatan. Sehingga, terciptalah jarak antara anak dan orang tua yang menyebabkan hubungan menjadi renggang.
Apabila Anda merasa menemukan perubahan pada diri anak saat menginjak fase remaja, tak perlu risau. Sebagai orang tua, yang perlu Anda lakukan adalah melakukan komunikasi agar kedekatan dengan anak yang telah menginjak remaja tetap terjaga.
Di artikel ini, Tania Kids Center menjelaskan perihal bagaimana cara melakukan komunikasi dengan remaja yang dapat orang tua lakukan untuk membangun kedekatan.
Table of Contens:

Di usia-usia ini, remaja memiliki rasa penasaran yang begitu besar dengan hal-hal baru yang belum pernah mereka dapati sebelumnya. Akan tetapi, remaja juga belum mampu untuk menentukan pilihan antara keinginan dan kebutuhan. Di sinilah peran orang tua diperlukan.
Ketika rasa keingintahuan remaja terhadap sebuah hal muncul sementara orang tua tidak memberikan dukungan, anak akan merasa seolah seluruh dunia menentangnya. Akibatnya, hubungan mereka dengan orang tua pun jadi terganggu.
Akibat rasa penasaran yang tinggi, mereka cenderung memiliki keinginan untuk menyampaikan segala pikiran dan perasaan mereka. Untuk melakukan komunikasi yang positif dengan remaja, orang tua harus menjadi seorang pendengar aktif. Dengarkan apa yang anak remaja Anda sampaikan.
Jadilah orang tua yang mampu mendengarkan ungkapan perasaan anak. Duduk berdekatan dengan anak remaja, pahami emosi mereka, dan dengarkan secara seksama tanpa menyela hingga anak tuntas bercerita. Dengan begitu, mereka akan merasa didengarkan dan dipahami.
Jika anak remaja Anda melakukan hal-hal yang kurang berkenan di hati, jangan pernah menyerang mereka. Menyalahkan anak ketika mereka melakukan hal yang menurut orang tua salah hanya akan berakibat buruk.
Untuk membangun komunikasi positif, orang tua harus bersikap asertif, bukannya agresif. Alih-alih melarang mereka untuk melakukan ini itu, cobalah untuk memberikan alasan yang dapat mereka pahami terkait mengapa Anda melarang anak remaja melakukan hal tersebut.
Hindari memberi nasihat secara agresif seperti mengatakan, “Kan, sudah diberi tahu kalau pulang jangan lewat jam 6. Kamu emang nggak pernah dengerin omongan Mama. Sebagai hukuman, uang jajan kamu dipotong.”
Cobalah untuk menyampaikan nasihat Anda dengan lebih halus, tapi tetap jelas dan lugas. Misalnya, “Mama khawatir sama keselamatan kamu. Tolong lain kali kabari, ya, kalau pulangnya telat.”
Kunci utama bagi orang tua saat melakukan komunikasi dengan remaja adalah untuk tidak menyudutkan anak. Bangunlah komunikasi dua arah dengan cara menghargai pendapat mereka.
Kendati tidak mudah dilakukan, orang tua juga harus belajar untuk melihat dari sudut pandang anak. Jika orang tua hanya memberikan omelan tanpa pernah berusaha mendengarkan anak, hubungan orang tua-anak dapat terancam. Sebab, semakin anak merasa dihakimi, semakin enggan bagi mereka untuk bersikap terbuka.
Merupakan hal wajar bagi anak remaja berselisih paham dengan orang tua ketika berbeda pendapat. Orang tua sepatutnya tidak membesar-besarkan perkara tersebut. Lakukanlah komunikasi sederhana, dengan bahasa yang mudah diterima agar Anda dan anak saling mengerti.
Sebagai orang tua, Anda tentu pernah menjadi remaja. Anda pernah melewati fase adu pendapat dengan orang tua. Rasanya tidak menyenangkan ketika diceramahi secara terus-menerus, bukan? Untuk itu, kini waktunya bagi Anda untuk membangun komunikasi lebih positif dengan anak remaja.

Dalam beberapa kasus, orang tua dan anak yang telah beranjak remaja menjadi tidak dekat karena perbedaan zaman. Ketika mengalami pubertas, remaja sedang kebingungan untuk menemukan identitas diri sendiri. Sementara itu, orang tua tidak dapat menempatkan diri untuk melakukan pendampingan di momen-momen krusial tersebut.
Cara melakukan komunikasi agar hubungan orang tua dan anak remaja lebih erat adalah dengan menjadi teman sebaya. Remaja umumnya tidak nyaman bercerita karena pemikiran orang tua yang notabenenya dewasa berbeda dengan cara pikir sederhana mereka. Untuk itu, orang tua harus mampu berperan sebagai sahabat untuk tempat curhat, bukan orang dewasa yang memberi nasihat.
Itulah pembahasan mengenai bagaimana cara melakukan komunikasi dengan remaja. Dengan menerapkan kiat-kiat di atas, hubungan kedekatan antara orang tua dan anak yang beranjak remaja akan tetap terjaga.
Baca artikel lainnya mengenai parenting di Tania Kids Center.
Baca Juga:
Silahkan konsultasikan pertanyaan anda pada kami
Whatsapp / phone : 0811-181-1183
Email : taniakidsc@gmail.com
Alamat : Jl. Tanjung Duren Barat 1 No. 18
Jakarta Barat 11470
Copyright © 2022. Tania Kid’s Center | Klinik Tumbuh Kembang Anak | Web Designed by ![]()