Mengatasi Separation Anxiety pada Bayi – Bayi dapat merasakan cemas ketika berpisah dengan orangtuanya. Tidak hanya cemas, beberapa bahkan bisa berteriak sambil menangis ketika ayah atau ibunya tidak ada di dekatnya walaupun untuk waktu yang singkat. Masih banyak orang tua yang belum memahami bagaimana cara mengatasi separation anxiety. Memang hal ini terlihat normal, tetapi tidak ada salahnya Ayah dan Ibu membantu si Kecil untuk mengendalikan situasi seperti ini. Simak informasi cara mengatasi separation anxiety.
Content:

Seiring berjalannya waktu, bayi akan mengembangkan keterikatannya dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. Meskipun merupakan perkembangan emosi yang baik, di sisi lain, hal ini juga dapat memicu timbulnya rasa cemas saat anak terpisah dengan orang tua atau orang-orang yang ‘dirasa’ dekat dengannya.
Hal tersebut yang dipahami sebagai separation anxiety atau kecemasan akan perpisahan. Bagaimanapun, kondisi ini adalah hal yang termasuk umum terjadi pada fase perkembangan bayi selama beberapa tahun pertama. Sebelum Anda mengetahui cara mengatasi separation anxiety, ada baiknya Anda mengenalin terlebih dahulu tanda-tandanya.
Separation anxiety atau kecemasan akan perpisahan pada bayi tidak sulit untuk diidentifikasi tanda-tandanya. Hal tersebut dapat dilihat dari perilaku yang ditunjukkan oleh bayi.
Hal ini mengacu pada kondisi seorang anak yang akan menunjukkan reaksi emosional yang kuat dan dapat dilihat dalam wujud perilakunya ketika terpisah dari orang tua. Biasanya, reaksi ketergantungan pada bayi ditunjukkan dengan cara menangis, agar orangtuanya tahu bahwa ia tidak nyaman dalam kondisi terpisah.
Lain hal dengan anak yang sudah berusia lebih seperti balita atau anak-anak. Mereka juga bisa menunjukkan reaksi ketergantungan tersebut dengan cara terus-menerus minta dipeluk, atau bahkan terlihat murung atau tidak nyaman ketika terpisah dari orang tua.
Pada bayi dan balita, tidak jarang mereka akan menangis ketika terpisah dari orangtuanya meskipun dalam waktu yang sangat singkat. Kecemasan akan perpisahan yang serupa akan muncul saat usia anak menginjak 6 bulan hingga 3 tahun. Perlu diingat bahwa hal ini merupakan fase yang cukup normal bagi perkembangan anak, sebagai bagian dari perkembangan aspek emosi.
Bukan hanya menangis, anak dapat menunjukkan rasa tidak suka jika terpisah dengan menunjukkan perilaku ekstrem yang mengakibatkan keributan kecil. Anak dapat merasakan panik jika harus terpisah, ditinggalkan sendiri, atau ditinggalkan bersama dengan orang yg ia rasa asing. Maka, sebagai bentuk penolakkan, anak akan menunjukkan perilaku seperti merengek maupun amukan yang sulit untuk dikendalikan.
Sesuai dengan perkembangan usianya, anak mampu memilih siapa saja yang ia rasa ‘dekat’ atau ‘nyaman’ dengan dirinya. Umumnya orang-orang yang termasuk dalam kategori ini adalah ayah, ibu, kakek, nenek, saudara, atau pengasuh. Umumnya, ketika ia keluar dari lingkungan yang berisi orang-orang tersebut, anak akan menjadi lebih waspada dan juga cemas. Ia terlihat tegang, tidak nyaman, malu-malu, di sekitar orang yang dianggapnya asing.
Ada berbagai kemungkinan yang membuat seorang anak harus tidur terpisah dengan orangtuanya. Mungkin ada anggota keluarga yang sakit, atau ada keperluan tertentu di tempat lain. Dalam situasi seperti ini, bayi dapat menunjukkan separation anxiety dengan berbagai cara. Biasanya, bayi akan terus menangis jika Ibu meninggalkannya di tempat tidur, dan akan terus menangis hingga Ibunya kembali. Ketika sudah terlelap pun, saat terbangun di tengah malam, ia akan menangis, dan mencari-cari orangtuanya dan berharap ia ditemani.
Maka, tidak jarang orang tua yang ingin mempelajari dan memahami bagaimana cara mengatasi separation anxiety.

Perhatikan beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi separation anxiety dan membantu si Kecil agar tidak merasa panik ketika harus berpisah dengan orang ia rasa dekat dengannya:
Bayi belum memahami bahwa segala sesuatu akan tetap ada ketika ia tidak dapat melihatnya. Ajari bayi dengan permainan seperti ‘Cilukba’ ataupun petak umpet untuk membantunya memahami kondisi ini.
Menyelinap ketika akan pergi hanya akan membuat bayi terus-menerus cemas karena berpikir orangtuanya dapat menghilang kapan saja. Usahakan untuk membangun kepercayaan dalam diri anak bahwa orangtuanya akan kembali setelah pergi.
Bayi memerlukan waktu untuk memproses kepergian. Jika Anda berlama-lama, seorang anak justru akan merasa sedih yang semakin lama. Pastikan Anda melakukan tips ini sebagai cara mengatasi separation anxiety.

Jika Anda harus pergi untuk bekerja maupun hanya keluar rumah sejenak, upayakan untuk berpisah dengan ekspresi yang positif. Bayi dapat menyerap emosi positif tersebut dan akan menjadi lebih tenang menghadapi perpisahan tersebut. Hal ini merupakan cara yang efektif dalam cara mengatasi separation anxiety.
Demikian informasi mengenai cara mengatasi separation anxiety pada bayi. Jangan lupakan bahwa fase perkembangan anak dalam aspek emosional membutuhkan perhatian dan kesabaran.
Jika Anda ingin mencari informasi lebih lanjut mengenai solusi untuk permasalahan Ibu dan anak, Anda dapat klik di sini.
Silahkan konsultasikan pertanyaan anda pada kami
Jl. Tanjung Duren Barat 1 No. 18 Jakarta Barat 11470
Lihat Lokasi
Greenwich Business Park, Jln Bumi Botanika
No E/18, Tangerang, 15331
Lihat Lokasi
Copyright © 2022. Tania Kid’s Center | Klinik Tumbuh Kembang Anak | Web Designed by ![]()